Oleh: captn. Perisai Bhinneka itu Malam Jakarta terasa lebih romantis. Lampu kuning tua menemaniku, bersama novel, berjudul Rindu karya Tere Liye. Hawa rendah sungguh terasa kental, rumah ini serasa rusa, yang terhimpit t-rex zaman mesozoikum. Pencakar langit yang teronggak dinamis diangkasa kota, berjajar tak terurus, tak merukuni rumah kecil semacam ini. 5 menit kugunakan memarkirkan kepala diatas tumpukan novel tadi, tak sengaja asta1 ini meraba dan spontan mengambil buku tebal dan kusam, dicovernya tak nampak icon ataupun tulisan sebagai pemanis buku. Halaman pertama, gambar perisai emas terpampang tepat ditengah halaman. Greeetttt, siuuuuuuuut, kepalaku berdebar keras bak lap pacu F1, yang dipakai race oleh Lewis Hamilton. Penyerangan semu akhirnya usai, nafasku bak terhenti selama 8 menit, kurang sedetik. Perisai itu sungguh mengingatkanku masa kelam, saat diriku masih terombang gelombang jati diri. * *...